Jumat, 29 Mei 2015
Liatnya Usaha Kaki Lima (Tulisan lama)
BUSTAMIN (39 tahun) sore itu, Rabu (7/1) menunggui dagangannya sambil bercanda dengan anak bungsunya yang berusia lima tahun. Meski kartu-kartu lebaran dagangannya masih bertumpuk sementara sepi pengunjung pada hari kedelapan Ramadhan, sama sekali tidak tergambar kecemasan di wajahnya. Di sudut lain emperan kompleks Pertokoan Cempaka Putih, istrinya bersikap sama dalam menunggu kartu lebaran yang juga sepi pembeli. Pasangan dengan lima anak ini mempunyai dua tempat untuk berdagang kartu-kartu lebaran selama Ramadhan ini.
"Tampaknya tahun ini lebih sepi dari tahun-tahun sebelumnya," katanya. Meski menyadari bahwa krisis moneter, krisis ekonomi, melambungnya nilai dollar, tetapi ia tetap optimis, dagangannya akan habis terjual sebelum Lebaran.
"Meski sekarang lebih sepi, tetapi biasanya pembeli baru ramai setelah lewat tanggal 15 (Ramadhan -Red)," ungkapnya. Dalam bayangannya, setelah masyarakat selesai mempersiapkan lebaran dengan membeli pakaian, beres-beres rumah, dan kebutuhan lain, barulah mereka membeli kartu lebaran untuk dikirim ke teman atau kerabatnya.
***
OPTIMIS, paling tidak harapan baik, itulah yang terkesan kuat dari pembicaraan Kompas dengan puluhan pedagang kaki lima di berbagai tempat di Jakarta: Tanahabang, Cempaka Putih, Senen, Jatinegara, Pulogadung, dan Tanjungpriok selama tiga hari minggu kedua Ramadhan ini.
Meski hingga hari kedelapan Ramadhan lalu dagangan masih sepi -apalagi kalau dibanding menjelang lebaran tahun lalu- optimisme itu tidak pupus. Karena, situasi tidak menentu adalah napas hidupnya.
Bukankah dalam menjalankan usahanya mereka senantiasa dihadapkan pada ketidakpastian akan keamanan berusaha, ketidakpastian akan banyak sedikitnya pembeli yang datang dan berbelanja? Justru ketidakpastian itulah yang memacu denyut jantung mereka untuk terus memompakan semangat kemandirian. Semangat yang kemudian menjadikan pedagang kaki lima umumnya liat, tidak mudah putus asa, meski tidak selamanya itu membuahkan keberhasilan.
***
PERJALANAN hidup Sukrisno (25 tahun) pedagang pakaian anak-anak di Tanahabang, barangkali bisa memberi gambaran betapa liatnya usaha kaki lima yang biasa disebut sebagai katup ekonomi itu. Setamat STM di Lampung, anak keempat dari tujuh bersaudara ini pernah menjadi pekerja di perkebunan kelapa sawit di Palembang, meski hanya bertahan selama setengah tahun.
Tiba di Jakarta 1989, ia segera bergabung dengan abangnya yang sudah lebih dahulu berdagang di Tanahabang. Ia membantu abangnya berdagang. Karena punya keahlian di bidang bangunan, maka ia pun sering memborong pekerjaan bangunan di beberapa proyek atau rumah tangga. "Jika tidak ada kerjaan, saya ikut jualan lagi," katanya.
Tidak hanya ikut berdagang abangnya, ia pun mulai belajar mandiri. Modal yang terkumpul dari usahanya sebagai pemborong dan membantu abangnya mulai ia belikan barang dagangan. Selain berdagang pakaian, ia sering berdagang sayur-sayuran pada pagi hari. "Tergantung mana yang sedang bagus pasarannya," katanya.
Baru tiga bulan belakangan ini ia kembali berdagang di Tanahabang. Selain sepi borongan, tiga bulan menjelang lebaran dianggapnya sebagai bulan baik bagi usaha kaki lima. "Pengalaman selama ini memang begitu," katanya.
Liku-liku usaha pedagang kaki lima tidak hanya dialami oleh Krisno saja. Beberapa pedagang kaki lima mempunyai jalan hidup kira-kira mirip. Berawal dari magang atau bantu-bantu teman/saudara, kemudian mengumpulkan modal sedikit-demi sedikit, lalu berusaha untuk mandiri.
Modal tampaknya bukan soal yang sulit bagi mereka yang mengawali dagangnya dari magang. Sebab, ikatan kekerabatan ikut berperan dalam penyediaan modal awal, setidaknya memberikan pinjaman lunak. Deri (23), penjual aksesori wanita di Senen, mengatakan, ia pernah memberikan modal sebesar Rp 600.000 kepada adiknya Yanto (20). "Tapi, uang itu habis dan tidak ada hasilnya," keluhnya.
Pengalaman ini tidak membuat Deri jera berdagang bersama adik-adiknya, yaitu Hendrik (17) dan Yanto (20). Setelah mengalami betapa sulitnya mencari pekerjaan, Deri lebih senang membekali adik-adiknya dengan pengalaman berdagang. "Saya mengajari mereka bagaimana menarik minat pembeli dan mengolah uang supaya balik modal," jelasnya.
Deri juga menjelaskan, setelah berdagang aksesori wanita di Senen sejak 1996 bersama dengan kedua adiknya, ia mampu mendapatkan untung rata-rata per hari Rp 30.000. Uang ini sebagian digunakan untuk makan sehari-hari dan sisanya ditabung di bank. "Ya, kalau dipakai untuk beli motor, ya, bisa," katanya ketika ditanya berapa tabungannya sekarang. Deri sudah menabung uang sebesar Rp 4,8 juta selama kurang lebih dua tahun.
Namun demikian, hampir tidak ada pedagang kaki lima yang pernah meminjam uang di bank. "Repot Pak," kata Ahmad, pedagang di Tanahabang. Kerepotan itu, bukan hanya pada aspek administratif yang harus dipenuhi, tetapi terlebih kekawatiran tidak bisa mengembalikan pinjamannya. Yanto, pedagang kelahiran Tanahabang dari pasangan Betawi-Cirebon misalnya, pernah mau pinjam uang di Bank Perkreditan Rakyat dalam jumlah yang relatif tidak banyak. "Kalau harus ngurus surat-surat, saya tidak bisa dagang," ujarnya. Akhirnya ia tidak jadi mengurus kredit.
Di luar pinjaman lunak dari teman atau saudara, ada kalanya pedagang terjerat pada pemberi pinjaman perorangan untuk menyederhanakan istilah lintah darat. Pengalaman Yanto, ia hampir bangkrut gara-gara pinjam ke pedagang uang tersebut karena dagangan lagi sepi sehingga tidak bisa membayar pokoknya.
Persoalan paling sulit yang dihadapi pedagang kaki lima justru bukan pada permodalan, melainkan tidak adanya jaminan berusaha dengan aman. Petugas ketertiban adalah "musuh" utama yang setiap saat bisa mengancam kelangsungan usahanya. Karena itu, bermain kucing-kucingan dengan petugas merupakan seni yang harus dikuasai.
Setelah Tanahabang, di kawasan Senen juga dilakukan penertiban pedagang kaki lima. Akibatnya, Unggul Sianipar (21), pedagang dompet memang tidak dapat lagi menjual dagangannya di areal jalan, tetapi di atas trotoar yang berpagar besi. Pendapatannya jelas berkurang. "Sebelumnya, bisa dapat Rp 50.000-Rp 100.000 per hari, Sekarang, cuma Rp 5.000-Rp 20.000," keluhnya.
Maka, ketika pemerintah memberikan keleluasaan membolehkan mereka berdagang di kaki lima di bulan Ramadhan ini, mereka sangat bergembira. Meskipun omset mereka tidak sebaik tahun-tahun lalu, tetapi setidaknya pemerintah sudah membantu memberikan peluang mendapatkan uang bagi banyak orang. "Kalau kami juga dilarang berjualan seperti biasanya, coba bayangkan berapa jumlah penganggur?" tanya Ahmad yang hingga pukul 13.30 baru mendapatkan uang Rp 50.000.
***
GANTI-ganti jenis usaha atau komoditi yang diperdagangkan tidak hanya dilakukan oleh Krisno. Kalau dilihat dari maraknya pedagang kaki lima di Tanahabang sejak awal Ramadhan, tentunya ada sejumlah pedagang baru. Entah mereka pedagang dari tempat lain atau pedagang musiman yang hanya berjualan pada waktu-waktu tertentu seperti menjelang lebaran seperti Krisno.
Dalam pengamatan Kompas, di sepanjang Jl Fachrudin, Jati Bunder, dan Jl Jembatan Tinggi terdapat 1000 lebih tenda yang didirikan. Karena rapatnya pedagang menempatkan meja tempat dagangan, maka setiap tenda bisa menampung tiga sampai empat pedagang.
Tentu saja tidak semua pedagang yang biasa mangkal di Tanahabang. Sebut saja Krisno yang baru kembali berdagang dalam tiga bulan terakhir, meskipun sebenarnya ia sudah dikenal sebagai dan mengenal liku-liku pedagang kaki lima Tanahabang. Bahkan setiap Sabtu dan Minggu mengajak temannya yang sekarang bekerja sebagai buruh bangunan untuk ikut membantunya menjualkan dagangannya.
"Lumayan, Sabtu dan Minggu kemarin teman saya bisa dapat uang Rp 84.000," katanya. Uang sebesar itu setara dengan upahnya selama seminggu sebagai buruh bangunan.
Di Cempaka Putih, Bustamin sebenarnya hanya mengisi waktu selama bulan Ramadhan. Pekerjaan utamanya adalah pedagang nasi Padang -juga di kaki lima- di depan Kantor Pos, Pasar Baru. "Sebagai muslim, rasanya tidak enak lah jualan makanan pada siang hari," katanya. Kartu lebaran dipilih karena sebelum berdagang nasi ia memang pedagang benda-benda pos yang mangkal di depan kantor pos.
Tidak hanya itu, Ahmad menyebut seorang temannya yang semula bekerja di kantor, setelah terkena PHK kini beralih menjadi pedagang kaos di Senen. Dan Firman, pedagang asli Betawi yang baru tiga tahun berdagang celana dalam menyebut salah satu kenalannya yang pegawai negeri tetapi setiap menjelang lebaran cuti untuk berdagang. "Hanya saja, tahun ini saya belum melihat dia," lanjutnya. (m suprihadi/bb)
Sumber: Kompas 11 Januari 1998
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar