BEBERAPA upaya sudah dilakukan pemerintah untuk menolong warga
masyarakat, terutama para karyawan yang di-PHK (pemutusan hubungan
kerja) di masa krisis ekonomi sekarang ini. Semisal proyek padat
karya dan makan gratis di warung-warung sehat dan sederhana, atau
warsena. Akronim ini untuk "menggantikan" warteg (warung tegal).
Alasannya, pengelola warteg saat ini bukan hanya wong Tegal, Jawa
Tengah, saja lagi.
Masih ditunggu pelaksanaan padat karya tahap kedua, yang renca-
nanya dimulai bulan April ini juga. Beda dengan sebelumnya, padat
karya tahap kedua mencakup bidang pertanian, warsena. Beda lainnya,
kalau tahap pertama - pembersihan kali dan got-got - hanya melibatkan
laki-laki, tahap kedua wanita diikutkan.
Di Jakarta, padat karya tahap pertama menghabiskan dana Rp 27,4
milyar. Rinciannya, Rp 18 milyar dari APBN, Rp 7 milyar dari APBD,
dan Rp 2,74 milyar sumbangan Menteri Sosial.
***
UPAYA itu tentu saja belum menjangkau semua warga. Sementara itu,
orang-orang terus mengalir ke Jakarta. Dari desa-desa di seluruh
Indonesia - terutama Pulau Jawa - mau mencoba keberuntungan karena di
desa tak ada yang bisa dikerjakan akibat krisis ekonomi. Maka, beban
Ibu Kota yang sudah berat menjadi lebih berat.
Sementara itu, bagi warga dan pendatang, berharap bisa bekerja
di sektor formal saat ini tidaklah mudah. Pabrik, restoran, pusat
perbelanjaan, malah mengurangi karyawan. Di sektor informal pun
kesempatan itu semakin sempit. Penyaluran pembantu rumah tangga dan
baby sitter tak lagi lancar (Kompas, 14/3).
Maka, salah satu pilihan, menjadi pedagang asongan, pengamen atau
"menjual jasa" melap kaca mobil di perempatan-perempatan jalan Ibu
Kota. "Jumlahnya terus bertambah," kata sejumlah warga.
Dan itu diakui Serma Teguhno, anggota polisi yang sehari-hari
bertugas di Pos Pulomas, sekitar 100 meter dari perempatan Jl
Suprapto-A Yani-Perintis Kemerdekaan-Yos Sudarso. Dia tak menyebut
angka, tetapi setiap hari dia melihat wajah-wajah baru di situ.
Pengamatan Kompas selama beberapa hari awal April di perbatasan
wilayah Jakarat Pusat, Timur, dan Utara, yang lebih dikenal dengan
nama Perempatan Coca Cola itu, menunjukkan pedagang, pengamen dan
sejenisnya, jumlahnya 100 orang lebih. Angka sebelumnya, menurut
anak-anak itu, sekitar 30 orang.
Di ujung Jl Letjen Suprapto, di atas marka pembatas jalan terlihat
38 orang, belum terhitung orang yang bergerombol di sisi kiri jalan yang
akan berbelok ke Tanjungpriok atau lurus ke Pulogadung. Di ujung Jl A
Yani, 23 orang. Jumlah yang kira-kira sama terlihat di ujung Jl Perintis
Kemerdekaan dan ujung Jl Yos Sudarso.
Erlangga Lukman Syah (16), pengamen yang sudah 10 tahunan bergumul
di kawasan itu mengakui bertambahnya "anak jalanan" itu. "Tuh yang
kepalanya botak baru seminggu di sini," katanya. Jumadi (39), misalnya,
adalah salah seorang pendatang baru datang dari Kediri, Jawa Timur,
tetapi lahir di Medan. Dia memilih menjadi tukang lap kaca mobil.
***
PEREMPATAN Coca Cola, bukan satu-satunya perempatan di Jakarta yang
mengalami tambahan "anak jalanan". Untuk menyebut beberapa, semisal
perempatan Kelapagading, Plumpang, Tanjungpriok, Grogol, Tomang.
Selama ini, perempatan dinilai rawan oleh sebagian besar warga. Di
perempatan itu sering terdengar peristiwa-peristiwa penodongan,
pengambilan secara terang-terangan kaca spion mobil-mobil mewah, dan
meminta uang secara paksa. Maka, pertambahan jumlah anak-anak itu ikut
meningkatkan kekhawatiran di kalangan warga.
"Banyak kejadian biasanya saat hujan atau malam hari," kata Serma
Teguhno. Di siang hari yang cerah, lanjutnya, biasanya karena sikap
pengendara yang memancing amarah. Semisal, menunjukkan sikap cuek,
memperlihatkan rasa tidak suka, marah-marah, mengumpat.
Karena itu, Serma Teguhno menyarankan, selain berhati-hati, tak ada
salahnya "memberi" anak-anak itu. Dan itu juga diakui anak-anak itu.
"Dikasih cepek aja kami sudah senang," kata Lukman, Jumadi, dan
beberapa kawannya.
Maka, saran Serma Teguhno, selalu siapkan uang receh dan -terutama
- selalu tersenyum kepada anak-anak itu... (msh)
Sumber: Kompas, 17 April 1998
Tidak ada komentar:
Posting Komentar